Loading...
ESMOD Jakarta News Header
NEWS

ESMOD Jakarta Hadir di JFW 2026 bawakan The Legacy of Authenticity: How Education Empowers the Future of Fashion

Deskripsi Gambar
Categories

NEWS AND ARTICLES

Posted Date

17 Nov 2025

Pada Jakarta Fashion Week 2026 tahun ini, Politeknik Kreatif Indonesia (ESMOD Jakarta) turut berpartisipasi sebagai salah satu Official Education Partner. Kolaborasi ini juga terwujud dalam kegiatan talkshow pada sesi JFW Center Stage  yang berlokasi di Pondok Indah Mall 3, dengan topik “The Legacy of Authenticity: How Education Empowers the Future of Fashion” pada tanggal 29 Oktober 2025 lalu. Sesi ini mengajak kita melihat bahwa konsep legacy dalam fashion bukan hanya soal hasil berupa desain yang tampil di runway, tetapi juga tentang nilai, proses belajar, dan hubungan yang terbangun selama proses kreasi. Talkshow tersebut dipandu oleh Rossy Adhystia selaku dosen ESMOD Jakarta, dengan menghadirkan empat pembicara yaitu Mega Saffira, Kepala Unit Penjaminan Mutu ESMOD Jakarta; Marco Sianturi, Kepala Program Creative Business ESMOD Jakarta; Stella Budiarjo, Kepala Program Fashion Design ESMOD Jakarta; serta Larasati Dewangga, alumni ESMOD Jakarta dan pendiri serta creative director dari brand Dewangga.

Di awal diskusi, para pembicara membahas mengenai makna legacy dalam dunia fashion. Mereka sepakat bahwa legacy bukan hanya sekadar hasil akhir berupa karya atau koleksi yang memukau, tetapi lebih kepada nilai, prinsip, dan karakter yang tertanam dalam proses penciptaannya. Stella menegaskan bahwa setiap desainer membawa cara berpikir dan sentuhan personal yang menjadi bagian dari identitasnya. Sementara itu, Larasati menambahkan bahwa legacy juga tercermin dari bagaimana sebuah karya mampu memberi dampak positif bagi komunitas serta budaya yang menjadi sumber inspirasi.

Pembahasan kemudian berlanjut ke pembahasan seputar peran pendidikan fashion dalam konteks legacy. Mega menjelaskan bagaimana sesuatu dapat disebut sebagai sebuah legacy Ketika benda atau hal tersebut tersebut dapat terus berfungsi dan relevan. Dan dalam hal ini, proses belajar-mengajar dalam edukasi dapat dilihat sebagai medium pengantaran legacy yang sesungguhnya, karena Ketika kita menerima ilmu, ilmu tersebut akan terus berfungsi serta relevan dalam otak kita, yang kemudian muncul dalam cara kita berpikir, berperilaku, dan sebagai desainer, dalam cara kita berkarya. Kemudian, Marco turut menekankan pentingnya membangun brand dengan menghargai nilai dan proses, bukan sekadar mengikuti tren pasar. Dalam konteks ini, Larasati berbagi pengalaman pribadinya dalam bekerja sama langsung dengan para pengrajin lokal, menjadikan proses kreatif sebagai bentuk kolaborasi yang saling mendukung. Dari sini terlihat bahwa keberlanjutan bukan hanya berbicara soal penggunaan material ramah lingkungan, tetapi juga tentang menjaga, merawat, dan melibatkan sumber daya manusia, budaya, dan narasi yang hidup di balik setiap karya.

Memasuki bagian berikutnya, diskusi mengarah pada bagaimana menyeimbangkan idealisme dengan kebutuhan bisnis. Pada pembahasan ini, Marco menyampaikan bahwa pemahaman dasar bisnis sangat membantu desainer untuk tetap mempertahankan visi dari bisnis mereka, sekaligus memastikan brand dapat bertahan dan berkembang. Selanjutnya, Larasati memberikan contoh dalam pengelolaan brand miliknya yang bernama Dewangga, dimana ia memadukan nilai budaya dengan strategi bisnis agar karya yang dihasilkan dapat mengikuti permintaan pasar, namun tetap memiliki jati diri dan identitas desain yang kuat. Dari pemikiran tersebut, tercermin bahwa kreativitas dan pertumbuhan usaha bukanlah dua hal yang berlawanan, melainkan dapat berjalan seiring dan saling menguatkan.

Menjelang akhir sesi talkshow, diskusi masuk ke pembahasan mengenai peran kolaborasi sebagai bentuk pemberdayaan dalam dunia fashion. Stella menyampaikan bahwa melalui proses belajar, seperti halnya di ESMOD Jakarta, mahasiswa juga diajak untuk menemukan gaya, identitas, dan pesan yang ingin mereka bawa sebagai desainer, dengan begitu, para mahasiswa akan mengetahui pihak mana saja yang dapat terlibat dalam penciptaan karya dan bagaimana kolaborasi tersebut berkontribusi pada pemberdayaan sumber daya manusia. Kemudian, Mega juga menambahkan bahwa kerja sama antara sekolah, komunitas, dan industri juga dapat membuka lebih banyak kesempatan untuk belajar dan tumbuh, sehingga sangat didukung keberlangsungannya di ESMOD Jakarta. Di sini, Larasati juga melihat bahwa brand dapat menjadi sarana sekaligus ekosistem yang memberdayakan para artisan dan perempuan kreatif di sekitarnya.

Sebagai penutup,  Rossy mengajak para pembicara untuk menyimpulkan makna dari legacy. Keempat pembicara pun sepakat bahwa authenticity atau keaslian adalah kunci dari sebuah legacy. Yakni bagaimana tren dalam dunia fashion akan terus berubah seiring berjalannya waktu, namun Ketika seorang desainer memiliki pegangan dalam nilai, identitas, dan authenticity yang ditanamkan selama proses belajarnya, karyanya akan dapat tetap hidup dan berkelanjutan. Pemahaman ini kemudian berujung kepada kesimpulan bahwa legacy dapat dibangun melalui praktik pendidikan yang tepat, di mana orisinalitas, perhatian terhadap detail, kemauan untuk terus berkembang, serta niat baik untuk memberikan dampak yang baik kepada sekitar, menjadi hal-hal yang dikedepankan.

Dalam kesempatan ini, Politeknik Kreatif Indonesia (ESMOD Jakarta) juga berterima kasih kepada Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 serta Dewi Magazine yang telah mempercayakan ESMOD Jakarta sebagai Official Education Partner dan memberikan kesempatan untuk mengisi sesi JFW Center Stage di tahun ini. Semoga tema yang dibahas pada sesi ini dapat memberikan inspirasi, pengetahuan baru, serta motivasi bagi para pelaku dan calon pelaku industri mode untuk terus berkarya dan berkembang.



Share to:

Any questions related to ESMOD Jakarta?
Click to WhatsApp Us